Halooo!!! welcome to my blog.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan sebuah karya cerita inspiratif yang berjudul "Iri Hati Sebuah Bulan" dengan struktur kebahasaannya.
Iri Hati Sebuah Bulan
·
Orientasi
Langit
ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat
keindahan malam dari ketinggian. Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap
beranda rumah tampak orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit.
Bulan
merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,”Lihat, teman-teman. Mereka
mengagumiku.” “Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami.” kata
sebuah bintang. “Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!” sahut
Bulan. “Huh, sombong!” sungut sebuah bintang pada teman-temannya.
·
Kerumitan Peristiwa
“Dia
boleh saja sombong. Tapi dia tak kan dapat mengalahkan Matahari.” kata bintang
yang lain. “Apa?” sahut Bulan terkejut. “Ya, kau tak bisa mengalahkan Matahari.
Karena Matahari lebih banyak penggemarnya. Pagi hari, saat Matahari terbit,
orang-orang ingin menyaksikannya. Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur
untuk kesehatan. Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar
terik, orang-orang tidak mengumpat. Mereka hanya mencari tempat yang teduh.
Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang dicuci
orang. Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia hebat.” kata sebuah
bintang.
“Tidak
sombong lagi!” sahut bintang yang lain. Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah
Matahari sehebat itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir
bagaimana mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal. Pagi datang. Matahari
segera menghampiri bulan.
·
Komplikasi
“Selamat
pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat.”
“Tidak!” “Lho, kenapa?” tanya Matahari heran. “Aku pun ingin bekerja pada siang
hari.” sahut Bulan. “Bulan, siang hari akulah yang bertugas. Kau harus beristirahat
supaya bisa tampil segera malam nanti.” kata Matahari. “Tidak! Sebenarnya aku
ingin bertarung denganmu.” kata Bulan. “Bertarung? Bertarung bagaimana?”
Matahari makin bingung. “Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku
ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?” “Bagaimana caranya?” tanya Matahari.
“Aku
akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai
orang-orang.” kata Bulan. “Ha ha ha,” Matahari tertawa geli. “Bulan, di pagi
hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?”
Bulan
tidak peduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Matahari. Tetapi, kemudian ia
kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya
menyapa Matahari. “Hu hu, tak seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar,
Matahari lebih hebat dariku.” Bulan menangis sedih.
·
Resolusi
“Benar
‘kan Matahari lebih hebat,” kata bintang-bintang yang mengelilinginya. “Sekarang
beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba.” “Tidak, aku tidak mau! Tak seorang
pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?” sahut Bulan sedih. “Bulan,
dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada
Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak
sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya
kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi.” hibur sebuah Bintang pada Bulan.
Bulan
berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong.
“Bulan, coba lihat!” kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak
melambai-lambaikan tangan. “Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu.
“Tapi uaaaah….” Bulan menguap. “Bulan mengantuk karena sepanjang siang tidak
tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat,” kata bintang-bintang.
·
Koda
Malam
itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit
tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak
lagi sombong dan tetap hadir setiap malam
Nahh, itu dia cerita inspiratif yang saya bagikan kali ini. Apakah menarik? Jangan lupa untuk selalu berkarya!
Contact me on
Instagram: @faa.ray
email: tifaranareswari@gmail.com